Apakah kamu pernah merasa terjebak dalam dunia fantasi yang begitu mendalam sehingga sulit untuk keluar? Jika iya, maka kamu mungkin telah merasakan apa yang disebut sebagai "Maladaptive Daydreaming." Apa itu Maladaptive Daydreaming? Mari kita telusuri bersama-sama disini, dan mari kita pelajari kaitannya dengan psikologi.
Apa itu Maladaptive Daydreaming?
Maladaptive Daydreaming, yang sering disingkat sebagai MD, adalah suatu bentuk daydreaming (berfantasi) yang ekstrem dan kompulsif. Ini bukan seperti sekadar berkhayal dalam kepalamu sebentar lalu melupakan, melainkan lebih dari itu. Bagi orang yang mengalami MD, daydreaming ini bisa menjadi kebiasaan yang mengganggu, menguras waktu, dan bahkan menghambat kehidupan sehari-hari mereka.
Penting untuk dipahami bahwa daydreaming itu sendiri adalah aktivitas yang umum dan sehat. Semua orang berkhayal dari waktu ke waktu. Namun, MD muncul ketika daydreaming tersebut menjadi lebih seperti "kecanduan," sehingga seseorang merasa kesulitan untuk mengontrolnya.
Ciri-ciri Maladaptive Daydreaming
1. Intensitas yang Tinggi
Penderita MD seringkali terlibat dalam daydreaming yang sangat mendalam. Mereka mungkin merenung dalam fantasi mereka selama berjam-jam.
2. Kompulsif
MD sering datang secara kompulsif, sulit untuk dihentikan atau dikendalikan oleh penderitanya.
3. Gangguan dalam Kehidupan Sehari-hari
Daydreaming yang intens dan kompulsif dapat mengganggu produktivitas dan aktivitas sehari-hari, seperti pekerjaan, belajar, atau hubungan sosial.
4. Fantasi yang Detail
Daydreaming yang terkait dengan MD seringkali memiliki plot dan karakter yang sangat rinci dan kompleks.
5. Kesulitan Membedakan Fantasi dari Kenyataan
Penderita MD mungkin mengalami kesulitan membedakan antara dunia fantasi dan kenyataan.
Penyebab Maladaptive Daydreaming
Meskipun penyebab pasti MD masih dalam tahap penelitian lebih lanjut, ada beberapa faktor yang mungkin berperan:
- Koping Emosional : MD bisa menjadi cara seseorang mengatasi stres atau emosi yang sulit.
- Kehidupan Sosial yang Terbatas : Isolasi sosial atau kurangnya hubungan yang memuaskan dalam kehidupan nyata bisa mendorong daydreaming yang berlebihan.
- Trauma atau Pengalaman Negatif : Beberapa individu yang mengalami trauma atau pengalaman negatif mungkin lebih rentan terhadap MD.
MD dapat memiliki dampak psikologis yang signifikan. Penderita MD mungkin merasa cemas, depresi, atau merasa terisolasi. Mereka juga mungkin mengalami kesulitan dalam mempertahankan hubungan sosial yang sehat dan dalam mencapai tujuan hidup. Untungnya, MD dapat dikelola. Beberapa pendekatan termasuk terapi kognitif perilaku (CBT) dan meditasi. Terapis atau konselor juga dapat membantu individu mengatasi MD dan mengembangkan strategi untuk menguranginya.
Maladaptive Daydreaming adalah fenomena yang menarik dalam dunia psikologi. Ini adalah contoh bagaimana aktivitas yang seharusnya sehat dan normal dapat menjadi masalah bila berlebihan. Penting untuk menyadari tanda-tanda MD dan mencari bantuan jika kamu merasa terjebak dalam daydreaming yang kompulsif. Dengan dukungan yang tepat, banyak individu dapat mengatasi MD dan menjalani kehidupan yang lebih seimbang.
Referensi :
Bigelsen, J., Lehrfeld, J. M., Jopp, D. S., & Somer, E. 2016. Maladaptive daydreaming: Evidence for an under-researched mental health disorder. Consciousness and Cognition.
Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito