Apakah kamu pernah merasa terjebak dalam dunia imajinasi kamu sendiri, hingga mengabaikan kenyataan di sekitar kamu? Jika ya, kamu mungkin telah merasakan efek dari apa yang disebut sebagai Maladaptive Daydreaming. Mari kita bersama-sama menjelajahi fenomena ini dari perspektif psikologi, memahami bagaimana aktivitas daydreaming yang berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan mental kita.
Saat Daydreaming Menjadi Gangguan
Daydreaming adalah aktivitas yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari. Semua orang pernah merasa terlarut dalam dunia imajinasi mereka sendiri, entah itu saat berjalan-jalan di taman, duduk di dalam kelas, atau ketika pekerjaan kantor terasa membosankan. Daydreaming yang sehat bisa menjadi sarana untuk melepaskan stres, mendapatkan inspirasi, atau merenung tentang masa lalu dan masa depan. Namun, ketika daydreaming menjadi sangat mendalam dan berkepanjangan, itu bisa menjadi masalah serius.
Maladaptive Daydreaming adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketika daydreaming berlebihan mengganggu kehidupan sehari-hari kamu. Orang yang mengalami Maladaptive Daydreaming mungkin merasa kesulitan untuk fokus pada tugas-tugas penting, memenuhi kewajiban sosial, atau bahkan tidur. Mereka bisa terjebak dalam dunia imajinasi mereka sendiri selama berjam-jam, bahkan hari-hari, tanpa dapat mengendalikannya.
Sekarang, mari kita pelajari bagaimana Maladaptive Daydreaming dapat mempengaruhi kesehatan mental kamu.
1. Keterkucilan Sosial
Ketika kamu terlalu sering terbenam dalam dunia imajinasi kamu sendiri, hal ini dapat menyebabkan isolasi sosial. Kamu mungkin menarik diri dari interaksi sosial karena daydreaming menjadi lebih menarik dibandingkan dengan dunia nyata. Hal ini dapat menyebabkan perasaan kesepian dan ketidakmampuan untuk membangun hubungan yang sehat.
2. Depresi dan Kecemasan
Maladaptive Daydreaming seringkali terkait dengan depresi dan kecemasan. Orang yang terjebak dalam daydreaming yang berlebihan mungkin merasa cemas terhadap kenyataan atau merasa sedih karena ketidakmampuan untuk mencapai tujuan dalam kehidupan nyata.
3. Kegagalan Akademik dan Pekerjaan
Gangguan daydreaming yang parah dapat mempengaruhi kinerja akademik dan profesional. Kamu mungkin gagal memenuhi tenggat waktu, tugas-tugas, atau kewajiban pekerjaan karena daydreaming yang berlebihan.
4. Ketergantungan
Seperti kecanduan lainnya, Maladaptive Daydreaming dapat menjadi perilaku yang adiktif. Kamu mungkin merasa tergoda untuk terus daydreaming bahkan ketika kamu menyadari bahwa ini merugikan kamu.
5. Perasaan Bersalah dan Malu
Orang yang mengalami Maladaptive Daydreaming sering merasa bersalah atau malu atas aktivitas mereka. Mereka mungkin merahasiakan kebiasaan daydreaming mereka dari teman dan keluarga, yang bisa meningkatkan beban emosional.
Cara Mengatasi Maladaptive Daydreaming
Untungnya, ada cara-cara untuk mengatasi Maladaptive Daydreaming dan memulihkan kesehatan mental kamu. Terapi kognitif, terapi perilaku kognitif, dan dukungan sosial dapat membantu kamu mengendalikan daydreaming yang berlebihan. Penting untuk diingat bahwa daydreaming itu normal, dan tujuan utamanya adalah untuk menjadikannya alat yang positif dalam kehidupan kita.
Dalam mengakhiri petualangan kita dalam dunia daydream yang membingungkan, mari kita ingat bahwa penting untuk menjaga keseimbangan antara fantasi dan realitas. Maladaptive Daydreaming mungkin bukan gangguan yang sangat dikenal, tetapi pemahaman tentangnya dapat membantu kita menghindari jebakan daydreaming yang berlebihan. Semoga kita semua dapat menjalani kehidupan yang seimbang dan penuh makna di dunia nyata.
Referensi :
Simner, Julia. 2021. Maladaptive Daydreaming: A Comprehensive Guide
Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito