Cancel Culture

26 Aug 2024
Image

Dibalik Layar Cancel Culture: Kenapa Kita Begitu Mudah Mencabut Dukungan?




Ngomongin tentang "Cancel culture" lagi nih, yang lagi rame banget di jagat maya. Tapi, kira-kira apa sih yang bikin kata gaul ini bisa mengguncang media sosial sampe sebegitu rupa? Nah, untuk menghargai lebih dalam, kita perlu melempar cakrawala ke dalam psikologi dan melihat apa yang mendasarinya. 

 

Sebelum kita masuk ke psikologi, mari kita pahami dulu apa itu cancel culture. Jadi, ini adalah fenomena di mana orang atau kelompok orang secara kolektif mencabut dukungan publik dari individu atau entitas tertentu yang dianggap melakukan tindakan kontroversial, tidak etis, atau merugikan. Biasanya, ini terjadi di dunia maya, tempat platform-media sosial seperti Twitter, Instagram, dan TikTok adalah panggung utamanya.

 

Bagaimana cara kerjanya? Biasanya, seseorang atau sekelompok orang akan mengeluarkan pernyataan yang memproklamirkan bahwa individu atau entitas ini harus "di cancel." Ini bisa berarti berhenti mengikuti akun mereka, berhenti mendukung produk atau karya mereka, atau bahkan berusaha merusak karir mereka. Akibatnya, dampaknya bisa bervariasi, dari pembatalan sementara hingga kerugian besar dalam karir seseorang.

 

Psikologi di Balik Cancel Culture

 

Sekarang, mari kita sibak lapisan-lapisan psikologi di balik cancel culture ini. Mengapa orang suka melakukan ini? Apa yang terjadi di otak mereka? Ada beberapa konsep psikologis yang bisa menjelaskan ini.

 

1. Konformitas Sosial

Manusia adalah makhluk sosial yang ingin diterima oleh kelompoknya. Ketika seseorang mulai meng-cancel seseorang atau sesuatu, orang lain mungkin akan ikut-ikutan untuk merasa bagian dari kelompok. Inilah yang sering disebut sebagai "efek bola salju."

 

2. Perasaan Keadilan

Psikolog menyebutnya sebagai "keadilan sosial." Orang suka melihat tindakan-tindakan yang mereka anggap tidak adil dihukum. Ini bisa menjadi alasan kuat di balik gerakan cancel culture, di mana mereka berpikir bahwa mereka melakukan hal yang benar dengan meng-cancel individu atau kelompok yang dianggap salah.

 

3. Empati Selektif

Terkadang, kita lebih cenderung empati dengan orang-orang yang kita rasa mirip dengan kita atau yang mendukung nilai-nilai yang kita yakini. Ini bisa membuat kita lebih mudah menghukum orang yang berbeda dari kita.

 

4. Reinforcement Sosial

Ketika seseorang berhasil meng-cancel seseorang, mereka sering mendapatkan pujian dan pengakuan dari kelompok mereka. Ini bisa menjadi bentuk positif yang memperkuat perilaku canceling.

 

Menanggapi Cancel Culture secara Cerdas

 

Bagaimana kita sebaiknya menanggapi cancel culture dengan bijak? Pertama-tama, kita perlu mengingat bahwa manusia bisa belajar dan berkembang. Kalau seseorang melakukan kesalahan, memberikan mereka kesempatan untuk memperbaiki diri bisa lebih konstruktif daripada langsung meng-cancel.

 

Selain itu, kita harus berhati-hati dalam menilai orang berdasarkan satu tindakan atau pernyataan saja. Kita semua punya kekurangan dan pernah melakukan kesalahan. Penting untuk memberi kesempatan kepada orang untuk bertobat dan belajar dari kesalahan mereka.



Jadi, itulah cancel culture dalam konteks psikologi. Ini adalah topik yang penuh dengan nuansa dan kompleksitas, dan terkadang perlu lebih dari sekadar mengikuti tren online untuk benar-benar memahaminya. Yang terpenting, kita harus tetap berempati dan memberi kesempatan kedua kepada orang-orang. 




Referensi : 

 

Haidt, Jonathan & Lukianoff, Greg. 2022. Cancel Culture: The Psychology of Social and Cultural Outcasting.

 

Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito

Admin Psikolog Gunawan Soewito
628123456789
Halo kak, ada yang bisa kami bantu?
×