Norman menekankan bahwa kesalahan manusia sering kali bukan berasal dari ketidakmampuan manusia itu sendiri, melainkan akibat desain yang membingungkan atau tidak intuitif. Oleh karena itu, proses desain harus melibatkan tahap memahami pengguna, menguji desain dalam konteks nyata, menerima umpan balik, dan memperbaiki desain secara berulang. Prinsip ini sangat berpengaruh dalam perkembangan UX (user experience) modern dan digunakan luas dalam teknologi, produk industri, bahkan layanan publik.
Konsep affordance dan signifiers yang diperkenalkan Norman juga sangat terkenal. Affordance menjelaskan bahwa objek harus “memberi petunjuk” mengenai cara penggunaannya, sementara signifiers adalah penanda visual yang mengarahkan tindakan pengguna. Contoh sederhana adalah pintu yang didesain dengan pegangan untuk ditarik dan plat datar untuk didorong. Prinsip seperti ini masih menjadi dasar desain UI dan UX hingga sekarang.
Selain itu, Norman turut mendirikan Nielsen Norman Group, sebuah lembaga riset UX yang sangat berpengaruh dan menjadi acuan utama dalam industri desain digital. Pemikirannya memberikan dasar kuat bagi berbagai bidang, termasuk interaksi manusia–komputer (HCI), desain industri, desain layanan, dan pengembangan perangkat lunak.
Layanan konseling professional, kami membantu individu dan organisasi mengatasi tantangan mental, memberikan dukungan yang efektif dan solusi yang praktis. Kunjungi sekarang juga di www.PsikologKakgun.com
Norman, D. A. (1988). The Design of Everyday Things. New York: Basic Books.
Norman, D. A. (1990). The Design of Everyday Things: Revised and Expanded Edition. Basic Books.
Norman, D. A. (1986). Cognitive engineering. In D. A. Norman & S. W. Draper (Eds.), User Centered System Design: New Perspectives on Human-Computer Interaction (pp. 31–61). Lawrence Erlbaum Associates.
Norman, D. A. (2013). The Design of Everyday Things: Revised and Expanded Edition. MIT Press.
Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito