Kamu pasti udah gak asing lagi sama kata 'FOMO,' kan? Ya, FOMO atau Fear of Missing Out ini udah jadi bahan obrolan kita sehari-hari, apalagi di era digital kayak sekarang. Tapi, apakah kamu tahu apa arti sebenarnya dari FOMO dan gimana efeknya dalam dunia psikologi kita? Yuk, kita selami bersama!
FOMO: Bukan Sekedar Trending Topic
Sebelum kita terjun lebih dalam, mari kita kenalan dulu dengan sang bintang utama, FOMO. Ini adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yang kalau diterjemahin ke dalam Bahasa Indonesia artinya "Rasa Takut Ketinggalan." Jadi, FOMO ini adalah rasa takut atau cemas yang kamu rasain kalau kamu nggak ikutan dalam suatu aktivitas atau acara yang lagi happening. Makanya, kamu suka banget lihat temen-temenmu posting foto di Instagram lagi nongkrong seru, sementara kamu stuck di rumah nonton Netflix.
Bagaimana FOMO Bekerja dalam Otak Kita?
Nah, sekarang masuk ke dalam psikologi. Gimana sih FOMO ini bisa ngaruh ke otak kita? Jadi, ketika kita lihat orang lain asik-asikan di suatu aktivitas, otak kita jadi terpicu untuk pengen ikutan. Ini karena otak kita punya kecenderungan sosial yang kuat, kita pengen jadi bagian dari komunitas atau lingkungan kita.
Ketika kita merasa FOMO, otak kita melepaskan hormon seperti dopamin yang bikin kita merasa senang ketika kita bisa ikutan. Nah, di sinilah letak masalahnya. Kita jadi terlalu sering tergoda untuk ikutan sesuatu yang sebenarnya nggak kita butuhkan atau nggak sesuai dengan nilai kita, cuma karena takut ketinggalan.
Dampak FOMO dalam Kehidupan Kita
FOMO ini, kalau nggak dikelola dengan baik, bisa berdampak negatif dalam hidup kita. Misalnya, kita jadi terlalu sibuk dan stres karena nggak bisa nolak tawaran untuk ikutan semua acara. Atau, kita bisa jadi konsumtif karena terlalu sering beli barang yang lagi trend. Selain itu, kita bisa lupa sama diri sendiri karena terlalu fokus sama aktivitas orang lain.
Cara Mengelola FOMO
Tapi tenang, gak semua hal tentang FOMO itu buruk. Kita masih bisa menikmati tren dan aktivitas yang asik tanpa jadi korban FOMO. Caranya?
Pertama, kenali nilai dan prioritas hidup kamu. Kalau suatu aktivitas nggak mendukung nilai-nilai itu, mungkin lebih baik nggak ikutan.
Kedua, jangan sering banget scroll media sosial. Ini bisa bikin kita terlalu terpaku sama apa yang orang lain lakukan.
Ketiga, ingetin diri sendiri bahwa nggak semua yang trending itu cocok buat kita. Kadang-kadang, santai di rumah atau melakukan hobi yang kita suka justru lebih baik daripada ikutan semua tren yang ada. Yang penting, kita harus punya kontrol atas hidup kita sendiri.
Jadi, kawan-kawan, FOMO itu memang ada, tapi kita punya kendali atas diri kita sendiri. Kita nggak perlu takut ketinggalan setiap tren dan aktivitas yang ada. Yuk, jadi orang yang lebih bijak dalam memilih apa yang benar-benar penting dalam hidup kita. Ingat, hidup bukan tentang jumlah pengalaman, tapi kualitas dan makna di baliknya.
Referensi :
Twenge, M. Jean & Campbell, Keith. 2021. The FOMO Factor: How Social Media Is Driving a Generation to Anxiety and Depression.
Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito