Kaitan Antara Emosi dan Binge Eating

21 Feb 2025
Image

Makan Banyak Bukan Berarti Kelaparan, Ternyata Binge Eating 

Apakah kamu pernah merasa terdorong untuk makan berlebihan, terutama saat sedang merasakan emosi yang kuat? Perasaan seperti stres, kesepian, atau kecemasan sering kali menjadi pemicu bagi kita untuk melibatkan diri dalam perilaku binge eating atau makan berlebihan secara tidak terkendali. Namun, apa sebenarnya yang membuat emosi dan binge eating terkait erat? Mari kita telusuri hubungan yang kompleks ini dalam konteks psikologi.

Binge eating, atau sering disebut sebagai gangguan makan kompulsif, bukanlah sekadar masalah makan berlebihan biasa. Ini melibatkan pola makan yang tidak terkendali, di mana seseorang makan dalam jumlah besar dalam waktu singkat, sering kali tanpa rasa lapar yang nyata dan dengan perasaan kehilangan kendali. Faktanya, binge eating merupakan gejala dari berbagai masalah psikologis yang lebih dalam.

Salah satu hubungan antara emosi dan binge eating adalah penggunaan makanan sebagai mekanisme koping. Ketika kita mengalami emosi negatif, seperti stres atau sedih, kita cenderung mencari cara untuk meredakan perasaan tersebut. Bagi beberapa orang, makanan menjadi pilihan yang mudah dan cepat untuk mengatasi emosi tersebut. Makanan bisa memberikan sensasi kenikmatan sesaat dan mengalihkan perhatian dari masalah yang sedang dihadapi.

Selain itu, terdapat hubungan yang kompleks antara neurotransmiter dalam otak dan emosi kita. Misalnya, serotonin, neurotransmiter yang terkait dengan perasaan bahagia dan kesejahteraan, dapat dipengaruhi oleh makanan yang kita konsumsi. Makanan tinggi gula dan karbohidrat dapat meningkatkan kadar serotonin dalam otak, yang pada gilirannya membuat kita merasa lebih baik secara emosional. Inilah mengapa kita sering merasa tertarik pada makanan-makanan yang mengandung banyak gula saat sedang merasa sedih atau stres.

Namun, setelah sesi binge eating selesai, seringkali muncul perasaan bersalah dan malu. Ini menciptakan spiral negatif di mana perilaku binge eating dapat memperburuk masalah emosional yang sudah ada. Orang yang mengalami binge eating secara teratur mungkin mengalami tekanan psikologis yang signifikan, seperti rendahnya harga diri dan gangguan kecemasan.

Dalam dunia psikologi, penting bagi kita untuk memahami kaitan yang kompleks antara emosi dan perilaku makan kita. Binge eating bukanlah sekadar masalah keinginan berlebihan untuk makan, tetapi juga merupakan manifestasi dari berbagai masalah psikologis yang lebih dalam. Dengan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan ini, kita dapat mencari pendekatan terapeutik yang efektif, baik melalui konseling psikologi atau konsultasi dengan profesional kesehatan mental. Dengan demikian, kita dapat mengatasi binge eating dengan lebih baik dan memperbaiki kesejahteraan emosional kita secara keseluruhan.

Kami menyediakan layanan psikologi yang difokuskan pada kebutuhan pribadi Anda, memastikan pengalaman konseling yang penuh perhatian dan hasil yang signifikan.

 

Referensi: 

Berzin, Robin. 2017. The Emotional Eater's Solution: A Revolutionary Program to Conquer Cravings and End Emotional Eating.

Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito

Admin Psikolog Gunawan Soewito
628123456789
Halo kak, ada yang bisa kami bantu?
×