Bayangkan jika kamu terperangkap dalam lamunan selama berjam-jam, dan merasa tidak dapat mengendalikan skenario hidup yang bermain di pikiran kamu. Kamu mungkin berpikir itu hanyalah reverie yang tidak berbahaya, tetapi bagi sebagian individu, itu bisa menjadi perjuangan sejati yang dikenal sebagai Maladaptive Daydreaming (MD). Disini, kita akan menjelajahi kaitan menarik antara Maladaptive Daydreaming dan gangguan kecanduan dari perspektif psikologi.
Apa Itu Maladaptive Daydreaming?
Maladaptive Daydreaming, sering disingkat sebagai MD, adalah fenomena psikologis di mana individu terlibat dalam lamunan yang ekstensif dan mendalam yang mengganggu kehidupan sehari-hari mereka. Lamunan ini bisa sangat intens dan hidup hingga membuat mereka merasa seolah-olah berada dalam realitas yang berbeda. Individu dengan MD mungkin merasa sulit untuk fokus pada tugas-tugas penting, yang berdampak pada kesejahteraan mereka secara keseluruhan.
Untuk memahami kaitan antara Maladaptive Daydreaming dan kecanduan, kita perlu memahami aspek psikologisnya. MD dianggap terkait dengan regulasi emosi, dan seringkali berfungsi sebagai mekanisme penanganan untuk melarikan diri dari stres, kecemasan, atau emosi negatif lainnya. Dalam konteks ini, berkhayal menjadi cara untuk meredakan perasaan tidak menyenangkan secara sementara. Terdengar akrab?
Tumpang Tindih dengan Kecanduan
Paralel antara Maladaptive Daydreaming dan kecanduan sangat mencolok. Keduanya bisa dilihat sebagai strategi penanganan yang tidak adaptif yang individu gunakan untuk mengatasi emosi mereka. Orang yang berjuang dengan kecanduan seringkali beralih ke zat atau perilaku untuk meredakan rasa sakit emosional atau mengisi kekosongan dalam hidup mereka. Dalam hal ini, MD dan kecanduan dapat dilihat sebagai dua sisi dari koin yang sama.
Peran Neurotransmitter
Otak memainkan peran signifikan dalam MD dan kecanduan. Penelitian menunjukkan bahwa keduanya terkait dengan ketidaknormalan kadar dopamin dalam otak. Dopamin adalah neurotransmitter yang terkait dengan kesenangan dan hadiah. Dalam kecanduan, zat atau perilaku mengakibatkan lonjakan dopamin, menciptakan siklus keinginan dan ketergantungan. Dalam MD, lamunan hidup itu sendiri bisa melepaskan dopamin, sehingga sulit untuk melepaskan diri dari siklus ini.
Gejala Penarikan Diri
Kecanduan seringkali melibatkan pengalaman gejala penarikan diri ketika zat atau perilaku kecanduan dihilangkan. Demikian pula, individu dengan MD mungkin mengalami gejala penarikan diri saat mencoba mengurangi lamunan mereka. Gejala ini dapat mencakup gelisah, mudah tersinggung, dan keinginan yang konstan untuk kembali ke lamunan mereka.
Pengobatan dan Pemulihan
Mengatasi Maladaptive Daydreaming dan kecanduan memerlukan kombinasi kesadaran diri dan bantuan profesional. Terapi, seperti terapi perilaku kognitif, dapat efektif untuk MD dan kecanduan. Terapi ini membantu individu mengidentifikasi pemicu, mengembangkan mekanisme penanganan yang lebih sehat, dan mendapatkan kembali kendali atas hidup mereka.
Hubungan antara Maladaptive Daydreaming dan kecanduan adalah bukti dari cara pikiran kita mengatasi emosi dan stres. Memahami dasar-dasar psikologis dari fenomena ini dapat membuka pintu untuk strategi pengobatan dan pemulihan yang lebih efektif. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami Maladaptive Daydreaming atau kecanduan, ingatlah bahwa ada harapan, dan bantuan profesional tersedia. Tidak pernah terlambat untuk mendapatkan kembali kendali atas hidup kamu dan menemukan cara yang lebih sehat untuk mengatasi emosi kamu.
Referensi :
Freeman, Mark. 2017. The Fantasy World of Maladaptive Daydreaming: An Exploration.
Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito