Leon Festinger lahir di Brooklyn, New York, pada 8 Mei 1919, dari pasangan Alex Festinger, seorang pengusaha bordir, dan Sara Solomon Festinger. Ia tumbuh di lingkungan keluarga Yahudi kelas menengah yang menghargai pendidikan dan kerja keras. Festinger meraih gelar sarjana psikologi dari City College of New York pada tahun 1939. Ia kemudian melanjutkan studi pascasarjana di University of Iowa, di mana ia belajar di bawah bimbingan Kurt Lewin, tokoh utama psikologi Gestalt dan teori medan (field theory). Di bawah asuhan Lewin, Festinger mengembangkan minat terhadap dinamika kelompok dan pengaruh sosial, yang kelak menjadi fondasi pemikirannya tentang perilaku manusia. Ia meraih gelar doktor pada tahun 1942. Setelah lulus, Festinger sempat bekerja sebagai ahli statistik untuk National Research Council’s Committee on the Selection and Training of Aircraft Pilots di University of Rochester selama Perang Dunia II. Pengalaman ini menumbuhkan ketertarikannya terhadap pendekatan eksperimental dan analisis kuantitatif dalam memahami perilaku manusia.
Pada tahun 1945, Festinger bergabung dengan Research Center for Group Dynamics di Massachusetts Institute of Technology (MIT), yang saat itu masih dipimpin oleh Kurt Lewin. Di sinilah ia memulai serangkaian penelitian penting mengenai perilaku kelompok dan tekanan sosial terhadap keseragaman. Melalui studi di asrama mahasiswa yang sudah menikah di MIT, Festinger menemukan fenomena sederhana namun mendalam: kedekatan fisik dan kesamaan pandangan memperkuat hubungan sosial. Sebaliknya, mereka yang memiliki pandangan berbeda cenderung terisolasi secara sosial.
Dari pengamatan tersebut lahirlah teori komunikasi sosial informal, yang menyatakan bahwa anggota kelompok cenderung menyesuaikan keyakinan mereka dengan kelompok karena adanya tekanan menuju keseragaman (uniformity pressure). Orang berusaha menyamakan pendapatnya, membujuk anggota lain, atau bahkan menyingkirkan mereka yang dianggap “menyimpang”. Eksperimen yang dilakukan Festinger dan murid-muridnya, termasuk Stanley Schachter dan Harold Kelley, memperlihatkan bahwa kesesuaian sosial bukan hanya hasil pengaruh eksternal, tetapi juga kebutuhan psikologis internal untuk merasa diterima.
Setelah kematian Kurt Lewin pada 1947, pusat penelitian berpindah ke University of Michigan, dan pada 1951 Festinger mulai mengajar di University of Minnesota. Di sinilah ia mengembangkan teori perbandingan sosial, salah satu tonggak besar dalam psikologi sosial. Menurut teori ini, manusia mengevaluasi kemampuan dan pendapatnya dengan membandingkan diri dengan orang lain, terutama ketika tidak tersedia ukuran objektif. Perbandingan ini menimbulkan dorongan untuk menyeragamkan pandangan, namun juga keinginan untuk menjadi sedikit lebih baik daripada orang lain, khususnya dalam budaya Barat yang menekankan kompetisi. Festinger menulis, “Keadaan kesetaraan sempurna dalam kemampuan tidak akan pernah membuat manusia puas, akan selalu ada dorongan untuk melampaui yang lain.” Dengan kata lain, manusia hidup dalam ketegangan antara kebutuhan akan kesamaan dan ambisi untuk unggul.
Karya paling terkenal Festinger muncul pada pertengahan 1950-an ketika ia memperkenalkan teori disonansi kognitif (cognitive dissonance theory). Teori ini menjelaskan bahwa ketidaksesuaian antara keyakinan, pikiran, dan tindakan menimbulkan ketegangan psikologis (disonansi) yang mendorong individu untuk mencari keseimbangan kembali, dengan cara mengubah pikiran, perilaku, atau menambah alasan pembenaran. Untuk menguji teori tersebut, Festinger melakukan berbagai eksperimen laboratorium di Stanford University, tempat ia mengajar sejak 1955.
Eksperimen terkenalnya, forced-compliance experiment, memperlihatkan bahwa peserta yang dibayar lebih sedikit ($1) untuk berbohong justru meyakinkan diri bahwa tugas membosankan yang mereka lakukan sebenarnya menyenangkan, karena mereka membutuhkan justifikasi internal untuk menutupi ketidaksesuaian antara tindakan dan keyakinan. Namun contoh paling terkenal datang dari dunia nyata. Festinger dan timnya menyusup ke dalam kelompok keagamaan yang percaya bahwa kiamat akan datang pada tanggal tertentu. Ketika ramalan itu gagal terbukti, para pengikut justru semakin bersemangat menyebarkan keyakinan mereka. Bagi Festinger, ini bukti nyata bahwa manusia cenderung mempertahankan keyakinan yang keliru untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat kesalahan pikirannya sendiri.
Pada 1960-an, Festinger mulai menjelajahi bidang baru: persepsi visual, sebagai bentuk lanjutan dari minatnya terhadap bagaimana manusia menyesuaikan ketidaksesuaian, kali ini antara persepsi dan gerakan mata. Ia kemudian pindah ke New School for Social Research di New York pada tahun 1968, di mana ia menjabat sebagai Profesor Else dan Hans Staudinger.
Menjelang akhir hidupnya, Festinger meninggalkan laboratorium eksperimental untuk mendalami arkeologi psikososial, bidang yang ia sebut “usaha memahami sifat manusia melalui peninggalan purba.” Karyanya yang terakhir, The Human Legacy (1983), menyoroti bagaimana kecerdasan dan kreativitas manusia sering kali menciptakan masalah baru, seperti teknologi yang tak terduga dampaknya bagi masa depan.
Festinger wafat pada 11 Februari 1989 karena kanker. Bahkan menjelang akhir hayatnya, ia tetap berpikir seperti seorang ilmuwan: membaca jurnal, menimbang data, dan akhirnya memilih untuk menghadapi kematian dengan tenang, tanpa pengobatan agresif.
Leon Festinger meninggalkan jejak yang sangat dalam dalam psikologi modern. Ia berhasil menunjukkan bahwa pikiran manusia tidak selalu rasional, namun dapat dipahami secara ilmiah. Teori disonansi kognitif menjadi salah satu teori paling berpengaruh abad ke-20, diterapkan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pemasaran, politik, hingga studi perilaku sosial digital masa kini. Karyanya mengingatkan kita bahwa manusia, pada dasarnya, selalu berusaha berdamai dengan pikirannya sendiri. Dalam setiap pembenaran kecil, dalam setiap perubahan keyakinan, ada jejak dari ketidaksesuaian yang tak ingin diakui, dan mungkin, itulah yang membuat kita benar-benar manusia.
Layanan konseling professional, kami membantu individu dan organisasi mengatasi tantangan mental, memberikan dukungan yang efektif dan solusi yang praktis. Kunjungi sekarang juga di www.PsikologKakgun.com
Referensi:
Suls, & Jerry. (2017, August 15). Leon Festinger | Biography & Facts. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Leon-Festinger
Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito