Mary Whiton Calkins: Pelopor Psikologi Diri dan Pemimpin Perempuan Pertama American Psychological Association

23 Oct 2025
Image

Biografi

Mary Whiton Calkins lahir pada 30 Maret 1863 di Hartford, Connecticut, dan tumbuh di Buffalo, New York. Ia menempuh pendidikan sarjana di Smith College (1884) dan kemudian menjadi dosen filsafat di Wellesley College. Demi memperdalam ilmu psikologi, Calkins belajar di Harvard University pada 1890 di bawah bimbingan William James dan Josiah Royce, serta melakukan penelitian laboratorium dengan Hugo Münsterberg. Meski menyelesaikan seluruh persyaratan doktoralnya dengan hasil cemerlang, bahkan lulus ujian komprehensi, tetapi Harvard menolak memberinya gelar Ph.D. hanya karena ia seorang perempuan. Calkins tetap melanjutkan karier akademik di Wellesley, mendirikan salah satu laboratorium psikologi pertama di perguruan tinggi wanita, dan menjadi presiden American Psychological Association (1905) serta American Philosophical Association (1918), prestasi ganda yang luar biasa pada masa itu.

Teori dan Kontribusi Psikologi

Calkins dikenal sebagai penggagas self-psychology, suatu pendekatan yang menempatkan diri sebagai pusat kesadaran. Menurutnya, pengalaman mental tidak dapat dipahami hanya sebagai kumpulan elemen (seperti pandangan strukturalisme), tetapi sebagai pengalaman pribadi yang terpadu. Ia menekankan relasi antara diri dan objek, serta kesatuan pikiran yang aktif, sehingga mendahului gagasan fenomenologi dan humanisme modern. Selain itu, riset eksperimentalnya di bidang memori asosiatif menemukan recency effect, yaitu kecenderungan mengingat informasi terakhir lebih baik, yang kelak diakui sebagai temuan penting dalam psikologi kognitif. Calkins juga menulis An Introduction to Psychology (1901) dan The Persistent Problems of Philosophy (1907), yang memadukan filsafat dan psikologi dengan gaya sistematis.

Kritik dan Relevansi

Pendekatan self-psychology Calkins dikritik karena dianggap terlalu filosofis dan sulit diuji secara empiris dibandingkan behaviorisme yang dominan pada awal abad ke-20. Namun, pandangannya tentang kesatuan kesadaran dan pentingnya subjek pribadi kini dinilai visioner, sejalan dengan psikologi humanistik dan fenomenologis yang berkembang kemudian. Penolakannya terhadap diskriminasi gender dan usahanya mendirikan laboratorium psikologi di Wellesley juga menjadikannya pelopor kesetaraan akademik.

Informasi Penting Lain

Meskipun tidak mengembangkan alat tes psikologi seperti Binet atau Wechsler, Calkins berjasa dalam mengembangkan metode paired-associate technique, yang kemudian banyak digunakan dalam penelitian memori. Ia menjadi inspirasi bagi generasi psikolog perempuan setelahnya, menunjukkan bahwa kontribusi ilmiah dapat diakui meskipun menghadapi hambatan institusional.

Kesimpulan

Mary Whiton Calkins adalah contoh luar biasa dari keteguhan akademik dan pemikiran visioner. Dengan menempatkan konsep diri sebagai pusat pengalaman dan memperkenalkan metode penelitian memori yang inovatif, ia memperluas cakrawala psikologi awal. Warisannya bukan hanya pada ide-idenya, tetapi juga pada perjuangan untuk kesetaraan gender di dunia akademik. Layanan konseling professional, kami membantu individu dan organisasi mengatasi tantangan mental, memberikan dukungan yang efektif dan solusi yang praktis. Kunjungi sekarang juga di www.PsikologKakgun.com

Referensi:
Calkins, M. W. (1901). An introduction to psychology. Macmillan.
Calkins, M. W. (1907). The persistent problems of philosophy. Macmillan.
Furumoto, L. (1980). Mary Whiton Calkins (1863–1930): A pioneer in the history of women in psychology. American Psychologist, 35(2), 111–116.

Category:

Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito

Admin Psikolog Gunawan Soewito
628123456789
Halo kak, ada yang bisa kami bantu?
×