Kata "flexing" adalah istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan saat seseorang menunjukkan atau memamerkan diri mereka sendiri di media sosial atau dalam kehidupan sehari-hari. Ini bisa berupa posting gambar perut six-pack yang sedang bersinar di pantai, atau bahkan sekadar bercerita tentang pencapaian hebat yang baru saja diraih. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi dibalik "flexing" ini? Apakah itu hanya sekadar pencitraan, atau ada lebih banyak yang tersembunyi?
Flexing sebagai Bentuk Ekspresi Diri
Kita semua memiliki hasrat untuk diterima dan dihargai oleh orang lain. Di zaman media sosial, ini sering kali berarti menampilkan diri kita dari sudut terbaik. Flexing dapat menjadi cara kita untuk mengungkapkan identitas, minat, dan aspirasi kita kepada dunia. Ini adalah bentuk ekspresi diri yang sangat modern.
Bayangkan kamu adalah seorang seniman yang membagikan karya seni kamu di Instagram. Kamu tidak hanya berbagi hasil akhir, tetapi juga proses kreatif kamu. Ini adalah bentuk "flexing" yang positif karena kamu membagikan hal yang kamu cintai dan yang menjadi bagian integral dari diri kamu.
Flexing dan Dampak Psikologisnya
Namun, ada sisi gelap dalam dunia "flexing" juga. Ketika kita terlalu terpaku pada mengejar pujian dan pengakuan dari orang lain, kita bisa dengan mudah terjerat dalam permainan perbandingan yang berbahaya. Inilah saatnya psikologi masuk ke dalam gambar.
1. Gangguan Kepercayaan Diri
Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain yang tampaknya memiliki segalanya bisa merusak kepercayaan diri kamu. Kamu lupa bahwa di balik layar, semua orang memiliki masalah dan ketidaksempurnaan mereka sendiri.
2. Stress dan Kecemasan
Berusaha untuk terus-menerus tampil sempurna di media sosial dapat menyebabkan stress dan kecemasan. Kamu khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan tentang kamu dan takut untuk membuat kesalahan.
3. Ketergantungan pada Validasi Eksternal
Jika kita terlalu bergantung pada pujian dan "likes" dari orang lain, kita bisa kehilangan kemampuan untuk menilai diri sendiri. Kamu mungkin tidak lagi yakin apa yang sebenarnya kamu inginkan dan butuhkan.
Tips untuk Bertahan dari Efek Negatif "Flexing"
Jadi, bagaimana kita bisa menggunakan kata "flexing" ini secara sehat dalam konteks psikologis? Berikut adalah beberapa tips:
Kenali Motivasi Kamu
Pertama-tama, kenali mengapa kamu berbagi atau memamerkan sesuatu. Apakah itu untuk mendapatkan validasi atau benar-benar untuk berbagi dengan orang lain?
Buat Batasan Waktu
Hindari terlalu sering terjebak di media sosial. Atur batasan waktu untuk diri kamu sendiri dan hindari membandingkan diri kamu terlalu sering.
Fokus pada Pertumbuhan Pribadi
Daripada membandingkan diri dengan orang lain, fokuslah pada pertumbuhan dan perkembangan pribadi kamu sendiri.
Berkomunikasi dengan Orang Lain
Jangan ragu untuk berbicara dengan teman-teman atau ahli psikologi jika kamu merasa terjebak dalam siklus negatif "flexing."
Flexing, dalam konteks psikologi, adalah bagian dari dunia media sosial yang sangat relevan. Ini adalah cara kita mengungkapkan diri kita, tetapi kita perlu berhati-hati agar tidak terperangkap dalam permainan perbandingan yang merugikan. Kenali motivasi kamu, fokus pada pertumbuhan pribadi, dan jangan ragu untuk mencari bantuan jika diperlukan. Jadilah diri kamu yang sejati dan hargai orang lain tanpa harus selalu mengejar pujian dari mereka.
Referensi :
Gilbert, T. Daniel & D. Wilson, D. Timothy. 2023. The Psychology of Flexing: How We Show Off to Impress Others.
Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito