“The opposite of courage in our society is not cowardice, it is conformity.”
— Rollo May
Rollo Reece May lahir pada 21 April 1909 di Ada, Ohio, dan tumbuh di Marine City, Michigan. Masa kecilnya diwarnai oleh konflik keluarga dan rasa keterasingan, pengalaman yang kelak membentuk pandangannya tentang penderitaan manusia. Setelah menamatkan pendidikan di Oberlin College pada tahun 1930, ia sempat mengajar di Yunani dan belajar langsung dari Alfred Adler — pengalaman yang menanamkan minatnya pada pemahaman eksistensial manusia. Sekembalinya ke Amerika Serikat, May melanjutkan studi di Union Theological Seminary, di mana ia bertemu teolog eksistensial Paul Tillich yang sangat memengaruhi pemikiran filosofisnya. Meski sempat menjadi pendeta, May akhirnya menempuh jalur psikologi klinis. Ia meraih gelar Ph.D. pertama dalam psikologi klinis dari Columbia University pada 1949 dengan disertasi yang kemudian diterbitkan sebagai The Meaning of Anxiety (1950). Di masa studi dan praktiknya, May juga berinteraksi dengan tokoh-tokoh penting seperti Erich Fromm dan Harry Stack Sullivan di William Alanson White Institute, New York.
Eksistensi, Kecemasan, dan Keberanian
Rollo May dikenal sebagai pelopor utama psikologi eksistensial di Amerika Serikat. Ia membawa gagasan filsafat eksistensial Eropa — dari Kierkegaard, Heidegger, hingga Nietzsche — ke dalam psikoterapi modern. Menurut May, kecemasan bukanlah sekadar gejala patologis seperti yang dikemukakan Freud, melainkan pengalaman universal yang menandai kesadaran manusia akan kebebasan dan kemungkinan kehilangan makna. Dalam The Meaning of Anxiety dan karya terkenalnya Love and Will (1969), May menekankan bahwa keberanian sejati adalah kemampuan untuk menghadapi ketidakpastian dan tetap memilih secara sadar. Kebebasan, bagi May, bukan berarti tanpa batas, melainkan keberanian untuk bertanggung jawab atas pilihan sendiri — sebuah tindakan yang sering kali melawan konformitas sosial.
May menulis lebih dari lima belas buku, di antaranya Man’s Search for Himself (1953), The Courage to Create (1975), Freedom and Destiny (1981), dan The Cry for Myth (1991). Ia juga menjadi editor bersama Ernest Angel dan Henri Ellenberger untuk buku penting Existence: A New Dimension in Psychiatry and Psychology (1958), yang memperkenalkan psikologi eksistensial ke dunia akademik Amerika. Melalui karyanya, May berusaha menggabungkan pendekatan humanistik dan eksistensial — menjembatani rasionalitas psikologi Barat dengan kedalaman makna filosofis tentang penderitaan, cinta, kehendak, dan kebebasan. Ia percaya bahwa terapi bukan hanya tentang menghapus gejala, melainkan membantu seseorang menjalani hidup yang autentik dan bermakna.
Rollo May dianggap sebagai “bapak psikoterapi eksistensial.” Bersama Abraham Maslow dan Carl Rogers, ia membentuk gelombang ketiga psikologi — psikologi humanistik — yang menekankan potensi, kesadaran, dan pilihan bebas manusia. Pemikirannya memberi pengaruh besar pada psikolog seperti Irvin D. Yalom dan James F. T. Bugental, serta menginspirasi perkembangan terapi modern yang berfokus pada makna dan nilai hidup. May wafat pada 22 Oktober 1994 di California, meninggalkan warisan pemikiran yang menegaskan bahwa keberanian untuk menjadi diri sendiri adalah inti dari keberadaan manusia.
Layanan konseling professional, kami membantu individu dan organisasi mengatasi tantangan mental, memberikan dukungan yang efektif dan solusi yang praktis. Kunjungi sekarang juga di www.PsikologKakgun.com
Aanstoos, C. M. (2023). Rollo may: Research starters: EBSCO research. EBSCO. https://www.ebsco.com/research-starters/history/rollo-may
Diamond, S. (2012). The meaning of mentors: Memories of rollo may. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/evil-deeds/201206/the-meaning-mentors-memories-rollo-may
Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito