“The human mind is an organ for the discovery of truths rather than of falsehoods.”
— Solomon Asch
Solomon Eliot Asch lahir di Warsawa, Polandia, pada 14 September 1907. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga Yahudi yang menghargai pendidikan dan pemikiran kritis. Pada usia tiga belas tahun, Asch bersama keluarganya berimigrasi ke New York dan menetap di kawasan Lower East Side, Manhattan. Awalnya, Asch kesulitan beradaptasi dengan bahasa dan budaya baru. Namun, tekadnya kuat. Ia belajar bahasa Inggris secara otodidak dengan membaca karya-karya Charles Dickens — kebiasaan yang kelak mencerminkan minatnya terhadap cara manusia memahami dunia dan dirinya sendiri. Asch meraih gelar sarjana dari City College of New York pada tahun 1928, lalu melanjutkan studi magister dan doktor di Columbia University di bawah bimbingan Max Wertheimer, tokoh utama psikologi Gestalt. Dari Wertheimer, Asch menyerap pandangan bahwa perilaku manusia harus dipahami sebagai keseluruhan yang utuh, bukan kumpulan bagian yang terpisah.
Pada awal 1950-an, di tengah bayang-bayang propaganda pascaperang dan ketaatan terhadap otoritas, Asch mengajukan pertanyaan sederhana namun tajam: Apakah seseorang akan menyangkal apa yang ia lihat dengan matanya sendiri hanya demi menyesuaikan diri dengan orang lain? Dalam eksperimen yang kini terkenal sebagai Asch Conformity Experiment, para peserta diminta membandingkan panjang garis pada kartu — tugas yang tampak mudah. Namun, tanpa mereka tahu, sebagian besar peserta lain adalah orang yang sudah bekerja sama dengan peneliti dan dengan sengaja memberikan jawaban yang salah.
Hasilnya mengejutkan:
Sekitar 75% peserta ikut memberikan jawaban salah setidaknya satu kali.
Rata-rata sepertiga dari seluruh respons bersifat konform, mengikuti mayoritas.
Hanya sekitar 25% yang tetap konsisten dengan pengamatan sendiri.
Melalui wawancara setelah eksperimen, banyak peserta mengaku sebenarnya tahu jawaban kelompok salah, tetapi takut dianggap aneh atau berbeda — fenomena yang kemudian disebut pengaruh sosial normatif (normative social influence). Sebagian lainnya benar-benar mulai meragukan persepsi mereka sendiri — bentuk dari pengaruh sosial informasional (informational social influence).
Asch menyimpulkan bahwa tekanan sosial dapat mengubah penilaian seseorang bahkan terhadap fakta yang jelas. Ia menunjukkan bahwa kemandirian berpikir manusia rapuh, dan bahwa keberanian untuk berbeda tidak selalu mudah diwujudkan. Meski demikian, Asch bukanlah pesimis. Ia percaya bahwa manusia, sekalipun rentan terhadap pengaruh sosial, tetap memiliki kapasitas untuk mencari kebenaran dan bertindak dengan integritas. Pemikiran ini kemudian menginspirasi banyak penelitian lanjutan, termasuk karya muridnya yang terkenal, Stanley Milgram, melalui eksperimen tentang ketaatan terhadap otoritas.
Selain eksperimen legendarisnya, Asch menulis buku Social Psychology (1952) yang menjadi salah satu karya penting dalam disiplin psikologi sosial. Ia mengajar di Swarthmore College, kemudian di Rutgers University, dan memimpin Institute for Cognitive Studies. Pada tahun 2002, Solomon Asch dinobatkan sebagai psikolog ke-41 paling berpengaruh sepanjang abad 20.
Karyanya terus relevan hingga kini, di ruang kelas, kantor, bahkan media sosial, setiap kali kita bertanya: “Apakah aku berpikir karena aku yakin, atau karena semua orang berpikir begitu?”
Layanan konseling professional, kami membantu individu dan organisasi mengatasi tantangan mental, memberikan dukungan yang efektif dan solusi yang praktis. Kunjungi sekarang juga di www.PsikologKakgun.com
Referensi
Cherry, K. (2010, May 25). Biography of Solomon Asch. Verywell Mind; Verywellmind. https://www.verywellmind.com/solomon-asch-biography-2795519
Dziak, M. (2023). Solomon Asch (psychologist) | EBSCO. EBSCO Information Services, Inc. | Www.ebsco.com. https://www.ebsco.com/research-starters/psychology/solomon-asch-psychologist
Mcleod, S. (2023, October 24). Solomon Asch Conformity Line Experiment Study. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/asch-conformity.html
Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito