Tangga Moral Manusia: Lawrence Kohlberg dan Pencarian Keadilan dalam Pikiran Anak

01 Dec 2025
Image

The ultimate goal of moral thought is to make justice the supreme principle of human life.”

— Lawrence Kohlberg

 

Awal Kehidupan dan Pendidikan

Lawrence Kohlberg lahir pada 25 Oktober 1927 di Bronxville, New York, Amerika Serikat. Ia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara dalam keluarga campuran Yahudi–Protestan. Kehidupan keluarganya berubah ketika kedua orang tuanya bercerai pada tahun 1932, memaksanya untuk memilih tinggal bersama sang ayah. Kohlberg menempuh pendidikan di Phillips Academy, Andover, dan setelah Perang Dunia II sempat bergabung dengan U.S. Merchant Marine. Dalam periode itu, ia membantu menyelundupkan pengungsi Yahudi ke Palestina — pengalaman yang kelak memperdalam refleksinya tentang moralitas dan keadilan.

Setelah kembali ke Amerika pada tahun 1948, ia melanjutkan studi di University of Chicago, meraih gelar sarjana psikologi hanya dalam waktu satu tahun, dan melanjutkan ke jenjang doktoral hingga memperoleh Ph.D. pada tahun 1958. Disertasinya tentang penalaran moral remaja laki-laki menjadi dasar dari teori yang mengubah wajah psikologi moral dunia.

 

Eksperimen dan Teori Tahapan Perkembangan Moral

Ketertarikan Kohlberg pada psikologi moral bermula dari karya Jean Piaget tentang perkembangan penilaian moral pada anak. Ia mengembangkan gagasan Piaget menjadi model enam tahap perkembangan moral yang jauh lebih kompleks dan sistematis. Melalui wawancara terhadap 72 anak laki-laki kelas menengah dan bawah, Kohlberg mengajukan dilema moral yang kini sangat terkenal — “Dilema Heinz”: apakah seorang pria miskin boleh mencuri obat untuk menyelamatkan istrinya yang sekarat? Dari hasil wawancara itu, ia menyusun teori enam tahap perkembangan moral, yang terbagi dalam tiga tingkat:

  1. Tingkat Prakonvensional

    1. Tahap 1: Orientasi Hukuman dan Ketaatan – Perilaku benar ditentukan oleh keinginan menghindari hukuman.

    2. Tahap 2: Orientasi Instrumental–Relatif – Tindakan benar dianggap sebagai hal yang membawa keuntungan pribadi atau “pertukaran yang adil.”

  2. Tingkat Konvensional

    1. Tahap 3: Orientasi Anak Baik – Kebaikan diukur dari penerimaan dan persetujuan sosial; seseorang ingin menjadi “anak yang baik.”

    2. Tahap 4: Orientasi Hukum dan Ketertiban – Moralitas diartikan sebagai ketaatan terhadap hukum dan norma sosial demi menjaga ketertiban.

  3. Tingkat Pascakonvensional

    1. Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial – Individu memahami bahwa hukum bersifat fleksibel dan harus disesuaikan dengan prinsip kemanusiaan.

    2. Tahap 6: Prinsip Etika Universal – Tahap tertinggi, di mana tindakan ditentukan oleh prinsip keadilan, kesetaraan, dan hati nurani pribadi, meskipun bertentangan dengan hukum yang ada.

Menurut Kohlberg, hanya sedikit orang yang mencapai tahap keenam, karena membutuhkan refleksi moral yang mendalam dan konsistensi etika yang sangat tinggi.

 

Gagasan Lanjutan dan Pengaruh dalam Dunia Pendidikan

Kohlberg menekankan bahwa moralitas tidak semata-mata hasil dari pembiasaan atau hukuman, melainkan dari proses berpikir yang matang, sebuah perkembangan kognitif yang melibatkan nalar, empati, dan refleksi terhadap nilai. Ia mengembangkan Moral Judgment Interview (1969) untuk mengukur tingkat penalaran moral seseorang melalui respons terhadap dilema moral. Karyanya juga menginspirasi James Rest dalam pembuatan Defining Issues Test (1974), instrumen yang digunakan secara luas hingga kini untuk menilai perkembangan moral individu. Sebagai dosen di Yale, University of Chicago, dan Harvard University, Kohlberg berkontribusi besar dalam memadukan teori moral dengan praktik pendidikan. Ia menekankan pentingnya lingkungan sekolah yang mendorong diskusi etika, keadilan, dan pengambilan keputusan moral secara reflektif.

 

Kritik dan Perkembangan Selanjutnya

Meskipun berpengaruh besar, teori Kohlberg tidak lepas dari kritik. Psikolog Carol Gilligan, murid sekaligus koleganya di Harvard, menilai bahwa modelnya terlalu berorientasi pada logika keadilan khas laki-laki dan mengabaikan moralitas berbasis kepedulian dan empati yang lebih sering ditemukan pada perempuan. Kritik tersebut kemudian memperluas horizon psikologi moral modern: dari penalaran berbasis keadilan menuju moralitas berbasis relasi. Meskipun begitu, warisan intelektual Kohlberg tetap menjadi fondasi utama bagi penelitian moral dan pendidikan etika di seluruh dunia.

 

Warisan dan Pengaruh

Lawrence Kohlberg meninggal dunia pada 17 Januari 1987 di Boston, Massachusetts, setelah bertahun-tahun berjuang melawan depresi dan penyakit kronis akibat infeksi parasit yang dideritanya sejak melakukan penelitian di Belize pada 1971. Karyanya meninggalkan warisan abadi dalam psikologi, pendidikan, dan filsafat moral. Ia berhasil menunjukkan bahwa perkembangan moral manusia bukan sekadar urusan benar–salah, tetapi perjalanan panjang menuju keadilan dan kesadaran diri.

 

Layanan konseling professional, kami membantu individu dan organisasi mengatasi tantangan mental, memberikan dukungan yang efektif dan solusi yang praktis. Kunjungi sekarang juga di www.PsikologKakgun.com

 

Referensi : 

Doorey, M. (2025, October 21). Lawrence Kohlberg. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Lawrence-Kohlberg

Sanders, C.E. (2025, September 23). Lawrence Kohlberg’s Stages of Moral Development. Encyclopedia Britannica. https://tinyurl.com/2nx9dzyp

GoodTherapy Editor Team. (2015, June 7). Lawrence Kohlberg (1927-1987). Lawrence Kohlberg Biography: Who they are and their contribution. https://www.goodtherapy.org/famous-psychologists/lawrence-kohlberg.html

 

Category:

Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito

Admin Psikolog Gunawan Soewito
628123456789
Halo kak, ada yang bisa kami bantu?
×